Pilih Mana Membeli Smartphone Sesuai Kebutuhan atau Prestige

Posted on

Pilih Mana Membeli Smartphone Sesuai Kebutuhan atau Prestige – Kotak ajaib (ponsel pintar/smartphone) pada masa pandemi Covid-19 menjadi kebutuhan pokok, untuk Pembelajaran jarak Jauh (PJJ). Berbagai kendala pun mencuat saat pelaksanaan PJJ, tidak semua siswa, guru, orang tua siswa memiliki smartphone/laptop. Ketiadaan anggaran untuk membeli pulsa, dan jaringan internet. Apalagi di daerah 3 T (terdepan, terpencil, terluar) yang masih menjadi wilayah Indonesia.

Pilih Mana Membeli Smartphone Sesuai Kebutuhan atau Prestige

Belum persoalan kompetensi guru/dosen yang dituntut inovatif dan kreatif menyiapkan materi pelajaran/kuliah. Semua serba dadakan, darurat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. PJJ sudah berlangsung selama 7 (tujuh) bulan, mereka belajar/kuliah dari rumah. Dalam prakteknya PJJ ini juga memunculkan aneka kisah memprihatinkan dan miris. Ada anak-anak SD yang harus jalan kaki kiloan meter melewati hutan dan jalan terjal untuk “nebeng” jaringan internet. Mahasiswi mengalami kecelakaan motor saat naik di daerah perbukitan untuk mencari sinyal.

Pelajar SMA dan mahasiswi duduk di pinggir jalan raya yang tidak aman dan tidak nyaman, karena di lokasi itu ada sinyal. Seorang siswi kelas XI SMA di Gowa Sulawesi Selatan bunuh diri diduga stres karena tugas numpuk jaringan internet sulit diakses. Pemerintah (Mendikbud) telah menggelontorkan subsidi kouta internet bagi siswa, guru, mahasiswa, dan dosen selama PJJ sebesar Rp 9 triliun. Masalah kuota internet terpecahkan, tapi jaringan internet yang tidak ada/lemot, tidak memiliki smarphone/laptop adalah persoalan lain.

Kuota internet, jaringan, smartphone/laptop satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Kenyataan seorang nenek buruh cuci di perkotaan selalu pinjam ponsel tetangga demi tugas sekolah cucunya. Walaupun pengguna ponsel pintar (smartphone) di Indonesia terus meningkat, masih ada yang belum memiliki. Menurut data tahun 2015 ada 28,6% penduduk di Indonesia yang menggunakan gawai, kemudian tahun 2018 meningkat menjadi 56,2%. Tahun 2019 pengguna ponsel pinter di Indonesia mengalami kenaikan mencapai 63,3%. Diprediksi tahun 2025 sudah menjadi 89,2% penduduk memanfaatkan ponsel pintar.

Fungsi smarphone baik berbasis Android maupun IOS saat diberlakukan PJJ sangat penting untuk mengerjakan tugas sekolah/kuliah daring. Namun smartphone berbasis Android lebih banyak digunakan daripada yang berbasis IOS. Hal ini karena smarphone berbasis Android apapun mereknya, dan bagaimanapun speknya itu lebih mudah mengoperasikannya. Smartphone Android dapat disebut sebagai ponsel “sejuta umat”, fleksibel, murah dan mudah digunakan.

Antara ponsel Android dan IOS masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya

Bentuk ponsel Android kekurangnya dari desain sangat standar kurang elegan, warna cerah “ngejreng”, ukuran besar/tebal, bobot lebih berat. Kelebihan ponsel Android mudah mengoperasikan, harganya terjangkau oleh semua lapisan masyarakat (HP sejuta umat). Kapasitas memori, kelengkapan fitur, kecanggihan lensa, tahun keluaran, dan seri terbaru yang membedakan HP Android itu dimiliki oleh siapa (dari kelas sosial rendah, menengah, atas).

Sedang kelebihan Iphone, desain lebih elegan, warna kalem/soft, ukuran lebh pipih, ringan. Lebih aman karena data yang tersimpan tidak bisa dibobol. Kesan memiliki Iphone orang eksklusif, istimewa (pengguna tidak banyak), modern, mewah, elegan. Brand Apple dikenal premium, dibekali dengan spesifikasi mumpuni dan fitur-fitur eksklusif. Kekurangan harganya relatif lebih mahal, terbaru diatas Rp 10 juta, dan tidak mudah digunakan, untuk memindah data ke ponsel Android dan/atau laptop tidak cocok (compatible).

Namun demikian banyak yang mimpi memiliki ponsel Iphone, tetapi tidak bisa terwujud karena harganya sangat mahal. Akibatnya tidak semua orang memiliki, walaupun menjadi idaman bagi kaum milenial. Memiliki Iphone “dianggap” dapat meningkatkan kelas sosial. Bahkan ada yang rela membeli Iphone dengan mengangsur sekedar “prestige” semata.

Padahal 2 tahun ke depan harga Iphone yang selangit itu pasti turun banyak, berarti rugi secara finansial. Ada yang memiliki Iphone benar-benar karena tuntutan pekerjaan. Imbasnya prestige naik, dan di cap sebagai kaum hedonisme (pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup).

Sebagai pengguna smartphone sejak tahun 2003 sudah ganti 7 (tujuh) kali, 6 (enam) HP berbasis android dan baru sekali berbasis IOS. Berganti ponsel karena tuntutan kebutuhan, hilang waktu di Roudah Nabawi dan rusak harus ganti IC. Sebagai generasi “baby boomer”, yang gaptek setiap kali ganti ponsel harus belajar menggunakannya. Khusus saat memiliki Iphone yang berbasis IOS, sering mengalami kesulitan saat memindah data dari Iphone ke smartphone/laptop, dan sebaliknya, karena tidak cocok (compatible).

Memakai ponsel berbasis Android diakui harga jauh dibawah Iphone, tetapi fitur relatif lengkap sesuai kebutuhan yang minimalis. Memiliki ponsel Android sekedar telepon, WA, VC (Video Call), memfoto, mengirim gambar, berita, merekam. Ponsel Android juga dapat menyimpan memori lebih banyak dan pastinya dari segi desain, warna, ketebalan, berat sudah menyesuaikan tuntutan jaman. Desain bagus, pipih, tipis, tahan banting, warna soft. Bedanya harga tidak terlalu dalam merogoh kantong. Jadi membeli sesuai kebutuhan itu meringankan, menenangkan, menenteramkan, dan menyenangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *